Perdebatan di grup percakapan sering berlangsung panjang tanpa titik temu. Menariknya, penyebabnya jarang karena salah satu pihak berbohong. Lebih sering karena tiga hal yang berbeda sedang dicampur menjadi satu, lalu semuanya diperlakukan sebagai kebenaran yang harus dimenangkan.

Tiga hal itu adalah fakta, tafsir, dan opini. Mengenali bedanya tidak menghentikan perbedaan pendapat, tetapi membuat kita tahu sedang berdebat soal apa.

Fakta: bisa diperiksa

Fakta adalah pernyataan yang kebenarannya dapat diperiksa dengan cara yang disepakati. Ciri utamanya sederhana: dua orang yang memeriksa dengan cara sama akan sampai pada hasil yang sama, terlepas dari apa yang mereka harapkan.

Contohnya, pernyataan bahwa nilai rata-rata ulangan sebuah kelas adalah 68. Siapa pun bisa membuka daftar nilai dan menjumlahkannya sendiri.

Perlu ditegaskan, fakta tidak berarti selalu benar. Fakta berarti jenis pernyataan yang bisa dinyatakan benar atau salah. Kalau ternyata hitungannya keliru, pernyataan itu tetap berjenis fakta, hanya saja fakta yang salah.

Opini: penilaian pribadi

Opini adalah penilaian, selera, atau anjuran. Ia tidak bisa diperiksa benar atau salahnya, karena memang bukan itu sifatnya.

Pernyataan bahwa nilai 68 itu memprihatinkan adalah opini. Orang lain bisa menganggapnya wajar untuk soal yang sulit. Tidak ada alat ukur yang bisa memutuskan siapa yang benar.

Ini bukan berarti opini tidak berharga. Opini tetap bisa dinilai dari kualitas alasannya. Opini yang disertai pertimbangan biasanya lebih kuat daripada opini yang muncul begitu saja. Yang keliru bukan memiliki opini, melainkan menyodorkannya seolah-olah ia fakta yang tidak boleh dibantah.

Tafsir: penjelasan atas fakta

Yang ketiga ini paling sering luput, padahal paling sering jadi sumber keributan.

Tafsir adalah penjelasan mengenai mengapa sesuatu terjadi, atau apa artinya. Posisinya di tengah. Ia bukan sekadar selera, karena bisa diuji kecocokannya dengan bukti. Tetapi ia juga belum tentu benar, karena bisa saja ada penjelasan lain yang sama masuk akalnya.

Pernyataan bahwa nilai turun karena siswa kurang belajar adalah tafsir. Mungkin benar. Tetapi bisa juga karena soalnya lebih sulit dari biasanya, gurunya berganti di tengah semester, atau banyak siswa sakit pada pekan ujian.

Tafsir bisa dinilai lebih baik atau lebih lemah. Tafsir yang baik menjelaskan lebih banyak bukti, tidak bertabrakan dengan fakta lain, dan bisa diuji. Tafsir yang lemah hanya cocok dengan satu potong bukti yang kebetulan kita ingat.

Satu peristiwa, tiga lapis

Supaya lebih terasa, mari ambil satu contoh sederhana.

Fakta: Nilai rata-rata ulangan kelas 8A turun dari 75 menjadi 68 dibanding ulangan sebelumnya.

Tafsir: Penurunan itu terjadi karena materi bab ini lebih sulit.

Opini: Sekolah perlu mengganti metode mengajarnya.

Ketiganya bisa saja diucapkan dalam satu tarikan napas, dan pendengarnya menganggap semuanya satu paket. Padahal cara memeriksanya berbeda sama sekali.

Fakta diperiksa dengan membuka data. Tafsir diuji dengan membandingkannya terhadap penjelasan lain, misalnya melihat apakah kelas lain juga turun pada bab yang sama. Opini didiskusikan berdasarkan nilai dan tujuan yang dianggap penting.

JenisBisa diperiksa?Cara menanggapinya
FaktaYa, dengan data atau pengamatanTanyakan sumbernya
TafsirSebagian, lewat kecocokan dengan buktiTawarkan penjelasan lain
OpiniTidak, tapi alasannya bisa dinilaiTanyakan dasar pertimbangannya

Tiga pertanyaan penyaring

Kalau sedang membaca pesan yang meyakinkan dan ingin memilah isinya, tiga pertanyaan ini biasanya cukup.

Adakah cara memeriksanya? Kalau ada dan hasilnya akan sama bagi siapa pun, itu mengarah ke fakta.

Apakah pernyataan itu menjelaskan sebab atau makna? Kalau ya, kemungkinan besar itu tafsir, meski ditulis dengan nada sangat yakin.

Adakah kata penilaian di dalamnya, seperti bagus, buruk, wajar, keterlaluan, atau seharusnya? Kata-kata semacam itu menandai opini.

Kenapa tafsir sering menyamar jadi fakta

Ada beberapa kata yang sering dipakai untuk menaikkan derajat sebuah tafsir agar terdengar seperti fakta. Misalnya “jelas terlihat bahwa”, “ini membuktikan”, “artinya”, “tidak mungkin lain”, atau “faktanya”.

Kata-kata itu tidak menambah bukti apa pun. Ia hanya menambah nada yakin. Ketika menemukannya, yang berguna bukan membantah, melainkan bertanya pelan: bukti apa yang membuat penjelasan ini lebih kuat daripada penjelasan lain?

Angka punya efek serupa. Sebuah tafsir yang ditempeli angka terasa lebih kokoh, padahal angkanya mungkin hanya mengukur satu bagian kecil dari persoalan.

Fakta yang benar pun bisa menyesatkan

Ada satu hal lagi yang perlu diketahui, dan ini agak halus.

Sebuah pesan bisa berisi fakta yang seluruhnya benar, tetapi tetap membentuk kesan yang keliru, karena fakta yang dipilih hanya sebagian. Menyebut bahwa harga sebuah komoditas naik tajam pekan ini adalah fakta. Tetapi kalau tidak disebutkan bahwa pekan sebelumnya harganya sempat jatuh dalam, gambaran yang tertangkap pembaca menjadi lain.

Karena itu pertanyaan yang berguna bukan hanya “apakah ini benar”, melainkan juga “apakah ada bagian yang tidak disebutkan”.

Memakainya tanpa membuat orang tersinggung

Bagian ini penting, karena mengetahui perbedaan ketiganya bisa berubah menjadi alat untuk menyudutkan orang, dan itu justru merusak percakapan.

Cara yang lebih menolong adalah menempatkannya pada diri sendiri lebih dulu. Menyebutkan “menurut saya” saat menyampaikan opini, dan “dugaan saya” saat menyampaikan tafsir, membuat lawan bicara tahu sedang menanggapi apa. Kebiasaan ini menular dengan sendirinya.

Dan ketika orang lain mencampur ketiganya, bertanya biasanya lebih efektif daripada mengoreksi. Pertanyaan seperti “itu dari mana datanya” atau “apa ada kemungkinan penyebab lain” membuka ruang, sementara kalimat “itu cuma opini kamu” biasanya menutupnya.

Menutup

Fakta menjawab pertanyaan apa yang terjadi. Tafsir menjawab mengapa dan apa artinya. Opini menjawab bagaimana seharusnya kita menyikapinya.

Ketiganya dibutuhkan. Percakapan yang sehat bukan yang hanya berisi fakta, melainkan yang pesertanya sadar sedang berada di lapisan mana.

Catatan. Contoh-contoh dalam tulisan ini sengaja dipilih dari situasi sehari-hari dan tidak merujuk pada peristiwa, lembaga, atau pihak tertentu. Pembagian tiga lapis di atas adalah alat bantu berpikir yang umum dipakai dalam pembelajaran literasi informasi. Dalam praktiknya, batas antara tafsir dan opini kadang tidak setajam yang digambarkan di sini, dan sebagian ahli memakai pembagian yang sedikit berbeda. Tulisan ini bertujuan edukasi dan tidak dimaksudkan untuk menilai pihak mana pun.