Ketika masih kecil, liburan sekolah terasa sangat panjang. Menunggu ulang tahun berikutnya seperti membutuhkan waktu yang lama. Namun setelah dewasa, bulan demi bulan terasa berlalu begitu cepat. Tahun baru seolah baru saja dirayakan, tetapi kalender sudah hampir berganti lagi.
Waktu sebenarnya tidak bergerak lebih cepat. Satu menit tetap terdiri atas 60 detik dan satu tahun tetap memiliki jumlah hari yang sama. Hal yang berubah adalah cara otak memperhatikan, menyimpan, dan mengingat pengalaman.
Para peneliti menyebutnya sebagai persepsi waktu subjektif, yaitu pengalaman pribadi seseorang dalam merasakan berjalannya waktu. Persepsi ini dapat dipengaruhi oleh usia, perhatian, rutinitas, emosi, dan banyaknya pengalaman baru yang tersimpan dalam ingatan.
Satu Tahun Menjadi Bagian yang Semakin Kecil dari Kehidupan
Salah satu penjelasan yang mudah dipahami berkaitan dengan perbandingan usia.
Bagi anak berusia 10 tahun, satu tahun setara dengan sekitar sepersepuluh dari seluruh hidupnya. Bagi orang berusia 50 tahun, satu tahun hanya sekitar seperlima puluh dari perjalanan hidupnya.
Karena menjadi bagian yang semakin kecil dibandingkan seluruh pengalaman hidup, satu tahun dapat terasa lebih singkat ketika usia bertambah.
Namun penjelasan ini sebaiknya dipahami sebagai ilustrasi sederhana, bukan hukum ilmiah yang sepenuhnya menjelaskan persepsi waktu. Pengalaman manusia terhadap waktu jauh lebih rumit karena juga dipengaruhi oleh ingatan, perhatian, kegiatan, dan keadaan emosional.
Pengalaman Baru Membuat Waktu Terasa Lebih Panjang
Masa kanak-kanak dipenuhi banyak pengalaman pertama: hari pertama sekolah, perjalanan pertama ke tempat baru, teman baru, pelajaran baru, dan berbagai kejadian yang belum pernah dialami.
Pengalaman baru membuat otak bekerja lebih aktif untuk memperhatikan dan membentuk ingatan. Ketika masa tersebut dikenang kembali, terdapat banyak penanda kejadian yang berbeda sehingga rentang waktunya terasa panjang dan penuh.
Sebaliknya, kehidupan orang dewasa sering berjalan dalam pola yang lebih tetap. Bangun pada jam yang sama, melewati jalan yang sama, melakukan pekerjaan serupa, lalu kembali ke rutinitas yang sama.
Penelitian menunjukkan bahwa rutinitas berhubungan dengan cara manusia menilai lamanya waktu. Namun pengaruhnya tidak selalu sederhana karena persepsi waktu juga bergantung pada perhatian dan cara seseorang mengingat sebuah periode.
Ketika hari-hari memiliki sedikit perbedaan, otak mempunyai lebih sedikit penanda khusus untuk membedakan satu hari dari hari lainnya. Saat dikenang beberapa bulan kemudian, periode tersebut dapat terasa seperti berlalu sangat cepat.
Perhatian Mengubah Kecepatan Waktu
Perasaan terhadap waktu juga berbeda antara saat suatu peristiwa sedang berlangsung dan ketika peristiwa itu dikenang kembali.
Ketika seseorang bosan dan terus melihat jam, waktu biasanya terasa berjalan lambat. Sebaliknya, ketika tenggelam dalam pekerjaan, percakapan, permainan, atau kegiatan yang menyenangkan, beberapa jam dapat terasa seperti beberapa menit.
American Psychological Association menjelaskan bahwa waktu cenderung terasa lebih lambat ketika seseorang bosan atau tidak aktif, dan terasa lebih cepat ketika perhatiannya terserap oleh suatu kegiatan.
Namun ketika dikenang kembali, hari yang penuh pengalaman menarik justru dapat terasa lebih panjang karena meninggalkan lebih banyak ingatan. Inilah sebabnya liburan yang menyenangkan dapat terasa cepat ketika dijalani, tetapi panjang dan kaya ketika dikenang.
Kesibukan Membuat Hari-Hari Seolah Menghilang
Memasuki usia dewasa, tanggung jawab biasanya bertambah. Pekerjaan, keluarga, kebutuhan rumah tangga, perjalanan, dan berbagai urusan administratif menyita banyak perhatian.
Ketika perhatian terus berpindah dari satu kewajiban ke kewajiban lain, seseorang tidak selalu memiliki kesempatan untuk benar-benar menyadari berjalannya hari. Minggu demi minggu kemudian terasa menyatu menjadi satu rangkaian panjang.
Karena itu, kesibukan tidak berarti waktu benar-benar bergerak lebih cepat. Kesibukan hanya membuat perhatian lebih banyak diarahkan pada tugas dan target daripada pada pengalaman waktu itu sendiri.
Apakah Ini Tanda Gangguan Ingatan?
Perasaan bahwa waktu berjalan semakin cepat umumnya merupakan pengalaman subjektif dan tidak otomatis menunjukkan adanya penyakit.
Perubahan ringan pada ingatan dapat terjadi sebagai bagian dari proses penuaan normal. Namun gangguan yang mulai menghambat kegiatan sehari-hari, seperti sering tersesat di tempat yang dikenal, kesulitan menyelesaikan tugas rutin, atau mengalami kebingungan yang semakin berat, perlu diperiksakan kepada tenaga kesehatan.
Jadi, perlu dibedakan antara perasaan umum bahwa tahun berlalu cepat dan gangguan kognitif yang benar-benar memengaruhi kemampuan hidup sehari-hari.
Bisakah Waktu Dibuat Terasa Lebih Lambat?
Kita tidak dapat memperlambat jam, tetapi kita dapat membuat kehidupan terasa lebih kaya dan tidak terlalu cepat menghilang dari ingatan.
Salah satu caranya adalah menambahkan pengalaman baru secara teratur. Tidak harus berupa perjalanan jauh atau kegiatan mahal. Mencoba rute berbeda, mempelajari keterampilan baru, membaca topik yang belum dikenal, memasak menu baru, atau mengunjungi tempat di sekitar rumah sudah dapat menciptakan penanda ingatan yang berbeda.
Rutinitas juga dapat dipecah menjadi beberapa tujuan kecil. Daripada membiarkan satu bulan berlalu tanpa pembeda, seseorang dapat menetapkan kegiatan khusus setiap minggu dan mencatat hasilnya.
Menyimpan foto, menulis catatan singkat, atau membuat jurnal harian juga membantu otak mengenali bahwa suatu periode berisi banyak kejadian berbeda.
Selain itu, perhatian perlu dikembalikan pada kegiatan yang sedang dilakukan. Menikmati percakapan tanpa terus memeriksa ponsel, memperhatikan suasana ketika berjalan, atau menyediakan waktu khusus bersama keluarga dapat membuat pengalaman terasa lebih utuh.
Menjaga aktivitas fisik, tidur yang cukup, hubungan sosial, serta kegiatan yang merangsang pikiran juga penting bagi kesehatan kognitif secara umum. National Institute on Aging merekomendasikan aktivitas fisik teratur dan kebiasaan hidup sehat untuk membantu menjaga fungsi otak ketika usia bertambah.
Bertambah Usia Bukan Berarti Kehilangan Waktu
Waktu terasa lebih cepat bukan semata-mata karena seseorang menjadi tua. Perasaan tersebut muncul dari gabungan banyak hal: pengalaman yang semakin akrab, kehidupan yang lebih rutin, perhatian yang tersita oleh kesibukan, serta cara otak menyusun kembali ingatan.
Kita memang tidak dapat memperpanjang satu hari menjadi lebih dari 24 jam. Namun kita dapat membuat hari tersebut meninggalkan lebih banyak makna.
Pengalaman baru, perhatian penuh, hubungan sosial, dan kebiasaan mencatat momen penting tidak menghentikan waktu. Semua itu membantu kehidupan agar tidak berlalu tanpa jejak.
Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya seberapa cepat waktu berjalan, tetapi seberapa sadar kita hadir di dalamnya.
Catatan kehati-hatian: Artikel ini membahas persepsi waktu secara umum dan bukan alat diagnosis medis. Perubahan ingatan atau kebingungan yang mengganggu kegiatan sehari-hari sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Referensi
National Institute on Aging, Cognitive Health and Older Adults.
National Institute on Aging, Memory Loss and Forgetfulness.
American Psychological Association, Psychological Time.
Wittmann dan Lehnhoff, penelitian mengenai pengaruh usia terhadap persepsi waktu.
John dan Lang, The Subjective Acceleration of Time With Aging.