Selama lebih dari tiga dekade, nama Judit Polgár identik dengan papan enam puluh empat kotak — bukan dengan panggung kekuasaan. Karena itu, ketika Perdana Menteri Hungaria menawarinya jabatan presiden pada pekan ini, dunia sempat menahan napas. Namun sang legenda catur menjawab tawaran itu dengan satu kata yang jarang terdengar dari orang yang ditawari takhta: menolak.

Tawaran dari Seorang Perdana Menteri

Cerita ini bermula dari perubahan besar di panggung politik Hungaria. Perdana Menteri Péter Magyar, tokoh pro-Eropa yang mengakhiri enam belas tahun kekuasaan Viktor Orbán lewat kemenangan telak pada pemilu April 2026, tengah menjalankan agenda besar: menyusun konstitusi baru dan mengganti sejumlah pilar kekuasaan lama.

Sehari setelah Presiden Tamás Sulyok menandatangani amendemen konstitusi yang mengakhiri masa jabatannya sendiri, Magyar mengumumkan niatnya meminta Judit Polgár mengisi kursi presiden sementara — sebuah jabatan yang sebagian besar bersifat seremonial, namun sarat makna sebagai lambang persatuan bangsa. Dengan mayoritas dua pertiga di parlemen, partai Tisza pimpinan Magyar sesungguhnya memiliki suara lebih dari cukup untuk meloloskan pencalonan itu.

Alasan Magyar memilih Polgár bukan afiliasi politik, melainkan reputasi: sosok non-partisan yang dihormati, yang namanya telah lama dikaitkan dengan bakat, kerja keras, dan integritas.

Siapa Judit Polgár

Bagi yang belum mengenalnya, Judit Polgár bukan pecatur biasa. Ia besar dari sebuah eksperimen pendidikan yang kelak menjadi legendaris: ayahnya, László Polgár, percaya bahwa kejeniusan dapat sengaja dibentuk, dan ia memilih catur sebagai medannya. Hasilnya tak terbantahkan.

Pada usia 15 tahun 4 bulan, Judit menjadi grandmaster termuda dalam sejarah saat itu, memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Bobby Fischer. Sepanjang kariernya ia justru memilih bertanding melawan para pemain pria terbaik dunia — dan menaklukkan mereka. Ia mengalahkan Garry Kasparov, Anatoly Karpov, serta pernah mencuri kemenangan dari Magnus Carlsen.

Inilah yang perlu diluruskan: meski kerap disebut pecatur perempuan terhebat sepanjang masa, Polgár sebenarnya tidak pernah mengejar gelar Juara Dunia Catur Wanita. Ia adalah satu-satunya perempuan yang pernah menembus sepuluh besar dunia di klasemen umum, dan satu-satunya yang melampaui angka elo 2700 — ambang yang lazim disebut sebagai penanda “super grandmaster”. Ia pensiun dari catur kompetitif pada 2014, dan kisah hidupnya diangkat ke dalam film dokumenter Netflix, Queen of Chess, yang tayang awal tahun ini.

Jawaban yang Mengejutkan

Tak sampai sehari setelah tawaran itu mengemuka, Polgár memberikan jawabannya lewat media sosial. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan, tetapi menyatakan tidak merasa memiliki kekuatan untuk memikul tanggung jawab historis menyatukan sebuah bangsa yang terbelah. Ia menegaskan akan tetap mendukung sepenuhnya lahirnya seorang presiden baru yang independen dan dihormati.

Magyar menanggapi penolakan itu dengan lapang. Ia berterima kasih atas segala yang telah Polgár lakukan untuk Hungaria, dan menyiratkan bahwa bangsanya akan tetap mengandalkan sang legenda — meski dalam kapasitas yang berbeda.

Apa yang Terjadi Selanjutnya

Dengan penolakan Polgár, kursi kepala negara untuk sementara diisi oleh Ketua Parlemen, Ágnes Forsthoffer. Konstitusi mengharuskan parlemen memilih presiden baru dalam tenggat tiga puluh hari. Partai Tisza dikabarkan akan menggelar pertemuan lanjutan untuk menentukan calon lain yang dianggap paling layak.

Menolak dengan Elegan

Ada ironi yang indah dalam kisah ini. Seorang perempuan yang seumur hidup dikenal karena keberanian melangkah — menerobos ke arena yang didominasi laki-laki, menantang para juara dunia — justru menunjukkan keberanian jenis lain: keberanian untuk tidak melangkah ketika ia menilai langkah itu bukan miliknya.

Dalam catur, pemain terbaik bukan hanya yang tahu kapan harus menyerang, melainkan juga yang tahu kapan sebuah bidak sebaiknya dibiarkan diam. Judit Polgár, tampaknya, memainkan prinsip yang sama di luar papan.


Dirangkum dari pemberitaan Reuters, AFP, Euronews, Times of Israel, dan ChessBase (Juli 2026).