Pernah menerima informasi di WhatsApp atau media sosial yang terasa sangat masuk akal, tetapi setelah diperiksa ternyata keliru? Hal seperti ini tidak selalu terjadi karena seseorang mudah dibohongi. Cara manusia memproses informasi memang memiliki beberapa kelemahan yang dapat membuat informasi salah terasa meyakinkan.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa penilaian terhadap kebenaran tidak hanya dipengaruhi oleh bukti, tetapi juga oleh seberapa sering informasi tersebut kita temui, seberapa mudah dipahami, dan seberapa sesuai dengan pengetahuan atau keyakinan yang telah kita miliki.
Informasi yang Diulang Terasa Semakin Benar
Salah satu mekanisme yang paling banyak diteliti adalah illusory truth effect atau efek kebenaran semu.
Sederhananya, sebuah pernyataan yang berulang kali kita lihat dapat terasa semakin benar hanya karena sudah terasa akrab. Tinjauan ilmiah yang tercatat di National Library of Medicine menunjukkan bahwa pengulangan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap informasi, termasuk berita palsu dan informasi yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan sebelumnya.
Inilah salah satu alasan sebuah hoaks yang muncul berkali2 di berbagai grup, akun, atau video dapat terasa seperti informasi yang sudah umum diketahui.
Padahal, sering muncul bukan berarti benar.
Informasi Sederhana Lebih Mudah Dicerna
Otak manusia cenderung lebih nyaman terhadap informasi yang mudah diproses.
Hoaks sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: ada masalah, ada penyebab, lalu ada pihak yang dianggap bertanggung jawab. Kenyataannya, persoalan ekonomi, kesehatan, teknologi, maupun politik biasanya jauh lebih kompleks.
Ketika sebuah informasi terasa familiar dan mudah dipahami, manusia dapat menggunakan rasa mudah tersebut sebagai salah satu petunjuk dalam menilai kebenarannya. Penelitian mengenai efek kebenaran semu mengaitkan fenomena ini dengan familiarity dan cognitive fluency—kemudahan informasi diproses oleh pikiran.
Akibatnya, penjelasan yang sederhana tetapi salah terkadang terasa lebih meyakinkan daripada penjelasan faktual yang membutuhkan konteks.
Emosi Membuat Informasi Sulit Diabaikan
Informasi yang menimbulkan takut, marah, khawatir, atau terkejut cenderung menarik perhatian.
Karena itu, pesan seperti “sebarkan sebelum dihapus”, “media tidak akan memberitakan ini”, atau “peringatan untuk keluarga Anda” layak membuat kita semakin berhati2, bukan semakin cepat menekan tombol bagikan.
WHO memperingatkan bahwa informasi palsu dan menyesatkan dapat menimbulkan kebingungan serta memengaruhi pengambilan keputusan. Dalam konteks kesehatan, dampaknya bahkan dapat mendorong perilaku yang berisiko.
Namun, bahasa yang emosional juga tidak otomatis berarti sebuah informasi salah. Isi klaim tetap harus diperiksa berdasarkan bukti dan sumbernya.
Hoaks Bisa Tetap Membekas Setelah Dikoreksi
Masalah lain muncul ketika informasi salah sudah terlanjur masuk ke dalam ingatan.
Penelitian menunjukkan bahwa manusia kadang masih menggunakan informasi yang keliru dalam penalarannya meskipun informasi tersebut kemudian telah dikoreksi. Fenomena ini dikenal sebagai continued influence effect.
Itulah sebabnya koreksi tidak selalu cukup hanya dengan mengatakan, “Itu hoaks.”
Koreksi akan lebih berguna jika sekaligus menjelaskan fakta yang benar dan memberikan sumber yang dapat diperiksa.
Cara Sederhana agar Tidak Mudah Terkecoh
Tidak diperlukan keahlian khusus untuk mengurangi risiko mempercayai hoaks. Beberapa kebiasaan sederhana sudah sangat membantu.
Sebelum membagikan informasi, berhenti beberapa saat dan tanyakan: Siapa sumber pertamanya? Apakah ada bukti? Apakah informasi serupa tersedia di situs resmi atau sumber tepercaya?
Jangan hanya membaca judul. Periksa tanggal, konteks, alamat situs, foto, serta apakah kutipan benar2 berasal dari orang atau lembaga yang disebutkan.
Untuk informasi yang mengatasnamakan pemerintah Indonesia, masyarakat juga dapat membandingkannya dengan situs instansi terkait dan basis klarifikasi hoaks Kementerian Komunikasi dan Digital. Komdigi masih secara aktif menerbitkan klarifikasi berbagai hoaks yang beredar di masyarakat.
Bukan Soal Pintar atau Tidak Pintar
Orang berpendidikan sekalipun tidak otomatis kebal terhadap informasi keliru. Pengulangan, emosi, rasa familiar, dan keyakinan sebelumnya dapat memengaruhi cara manusia menilai informasi.
Karena itu, pertahanan terbaik terhadap hoaks bukan merasa bahwa kita tidak mungkin tertipu.
Justru kebiasaan untuk berkata “saya periksa dulu” jauh lebih berguna.
Di tengah arus informasi yang sangat cepat, kemampuan menunda kesimpulan beberapa menit dapat menjadi pembeda antara menerima informasi dan benar2 memahaminya.
Informasi yang terasa meyakinkan belum tentu benar. Kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa sering sebuah pesan dibagikan, melainkan oleh seberapa kuat bukti yang mendukungnya.
*Catatan: Istilah “hoaks” dalam artikel ini digunakan dalam pengertian umum untuk informasi palsu atau menyesatkan. Dalam kajian komunikasi, misinformation dan disinformation memiliki pengertian yang berbeda, terutama berkaitan dengan unsur kesengajaan dalam penyebarannya. WHO membedakan disinformasi sebagai informasi palsu atau dimanipulasi yang disebarkan dengan pengetahuan bahwa informasi tersebut tidak benar. *