Arisan mungkin adalah “lembaga keuangan” paling merakyat di Indonesia. Tanpa kantor, tanpa formulir, tanpa jaminan — cukup bermodal kepercayaan, sekelompok ibu rumah tangga, karyawan kantor, atau warga satu RT bisa menjalankan sistem simpan-pinjam yang sudah bertahan turun-temurun. Tetapi pernahkah Anda bertanya: secara hitung-hitungan, apakah arisan itu menguntungkan? Dan kalau ada yang untung, siapa sebenarnya dia?

Jawabannya menarik, sedikit mengejutkan, dan — di era arisan online — juga penting untuk keselamatan dompet Anda.

Sekilas Tampak Impas Sempurna

Mari kita hitung arisan yang paling umum. Sepuluh orang, iuran Rp500 ribu per bulan, undian setiap bulan. Yang namanya keluar membawa pulang Rp5 juta.

Sekarang hitung posisi setiap peserta di akhir arisan, setelah 10 bulan: setiap orang telah menyetor 10 × Rp500 ribu = Rp5 juta, dan setiap orang menerima tepat Rp5 juta. Setoran sama dengan penerimaan. Tidak ada yang untung, tidak ada yang rugi. Dalam matematika, ini disebut permainan berjumlah nol (zero-sum): total uang tidak bertambah dan tidak berkurang, hanya berpindah giliran.

Kalau begitu, selesai? Belum. Karena hitungan di atas melewatkan satu hal yang justru paling penting dalam ilmu keuangan: waktu.

Rahasianya: Rp5 Juta Hari Ini ≠ Rp5 Juta Tahun Depan

Prinsip paling dasar dalam matematika keuangan berbunyi: uang yang diterima lebih awal bernilai lebih tinggi daripada uang dalam jumlah sama yang diterima belakangan. Alasannya dua:

Pertama, uang lebih awal bisa “bekerja” lebih dulu. Dipakai untuk modal jualan, membayar utang yang berbunga, atau sekadar disimpan di tabungan berbunga — uang yang datang duluan punya waktu lebih panjang untuk menghasilkan.

Kedua, inflasi menggerus nilai uang. Harga barang cenderung naik dari waktu ke waktu — Bank Indonesia sendiri menetapkan sasaran inflasi di kisaran 2,5 persen per tahun sebagai kondisi normal ekonomi. Artinya Rp5 juta yang diterima bulan ke-10 daya belinya sedikit lebih rendah daripada Rp5 juta di bulan pertama.

Dengan kacamata ini, arisan berubah wujud. Ia bukan lagi sekadar undian berhadiah, melainkan jaringan pinjam-meminjam tanpa bunga:

  • Penerima giliran awal pada dasarnya sedang meminjam dari seluruh anggota — menerima Rp5 juta di depan dan mencicilnya Rp500 ribu per bulan, tanpa bunga sepeser pun. Bandingkan dengan pinjaman mana pun: fasilitas semacam ini nyaris mustahil didapat di tempat lain.
  • Penerima giliran akhir sebaliknya sedang menabung sambil meminjamkan uangnya kepada anggota lain — juga tanpa menerima bunga.

Jadi jawaban pertanyaan di judul, murni secara matematika: yang paling untung adalah penerima giliran paling awal, dan yang paling “berkorban” adalah giliran paling akhir. Untung-rugi ini biasanya kecil — pada contoh di atas, selisih nilai waktunya paling hanya puluhan ribu rupiah — tetapi ia nyata, dan makin besar jika nominal iuran dan jumlah peserta makin besar.

Lalu apakah undian membuat ini tidak adil? Justru sebaliknya. Karena giliran ditentukan acak, setiap peserta punya peluang yang sama persis mendapat giliran awal maupun akhir. Secara nilai harapan (rata-rata peluang), posisi semua orang setara. Undian yang jujur dan terbuka adalah “hakim matematika” yang membuat arisan tetap adil.

Kalau Begitu, Kenapa Arisan Tetap Masuk Akal?

Kalau penerima akhir sedikit “rugi waktu”, kenapa arisan bertahan ratusan tahun dan disukai di banyak negara — dari Indonesia sampai Afrika dan Amerika Latin, dengan berbagai nama lokalnya? Karena arisan menyimpan keuntungan yang tidak tertulis di angka:

Ia adalah mesin disiplin menabung. Banyak orang gagal menabung bukan karena kurang penghasilan, melainkan kurang komitmen. Arisan mengubah niat menjadi kewajiban sosial: malu pada tetangga lebih ampuh daripada pengingat aplikasi. Ilmu ekonomi perilaku mengakui kekuatan “alat pemaksa komitmen” semacam ini.

Ia adalah akses kredit tanpa bunga bagi yang tak tersentuh bank. Bagi warga yang sulit mendapat pinjaman resmi, giliran arisan adalah dana tunai tanpa bunga, tanpa agunan, tanpa biaya administrasi — jauh lebih sehat daripada terjerat pinjaman berbunga mencekik.

Ia merekatkan kepercayaan sosial. Pertemuan rutinnya merawat silaturahmi — modal sosial yang nilainya tidak bisa dirupiahkan.

Dengan kata lain: secara nominal arisan impas, secara nilai waktu sedikit berpihak pada giliran awal, tetapi secara sosial dan kedisiplinan, semua peserta bisa untung — selama arisannya jujur.

Bahaya Baru: “Arisan” yang Bukan Arisan

Dan di sinilah bagian yang paling penting untuk era sekarang. Kepercayaan yang menjadi ruh arisan kini dibajak oleh penipu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara khusus telah memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai arisan online ilegal yang banyak menyasar ibu rumah tangga dan kaum muda.

Modus yang paling umum adalah “arisan menurun” atau “arisan bandar” di media sosial: peserta diminta menyetor sejumlah uang dan dijanjikan menerima lebih besar dari total setorannya dalam waktu singkat. Di titik ini, matematika langsung membunyikan alarm. Ingat sifat dasar arisan: berjumlah nol — uang yang keluar hanya bisa berasal dari uang yang masuk. Maka jika semua peserta dijanjikan menerima lebih besar dari setorannya, dari mana selisihnya? Hanya ada satu jawaban: dari setoran korban baru. Itu bukan arisan; itu skema Ponzi berkedok arisan.

Dan skema Ponzi secara matematis pasti runtuh. Agar semua janji terbayar, jumlah peserta baru harus terus berlipat ganda — dan pertumbuhan berlipat ganda selalu menabrak batas: jumlah orang yang bisa direkrut tidak tak terhingga. Begitu rekrutmen melambat, pembayaran macet, admin menghilang, dan yang tersisa hanyalah barisan korban. Data menunjukkan skala bahayanya: kerugian masyarakat akibat investasi bodong dalam berbagai bentuknya tercatat mencapai Rp139,67 triliun sepanjang 2017–2023, dan pusat penanganan penipuan transaksi keuangan IASC yang dibentuk OJK telah menerima lebih dari 515 ribu laporan hanya dalam periode November 2024 hingga Maret 2026.

Ciri Arisan Sehat vs Arisan Berbahaya

Agar praktis, gunakan daftar periksa ini.

Arisan sehat: semua peserta saling mengenal di dunia nyata; total penerimaan setiap orang sama dengan total setorannya; urutan ditentukan undian terbuka atau kesepakatan yang diketahui semua; pencatatan transparan dan bisa diperiksa kapan saja; pengelola tidak mengambil keuntungan tersembunyi.

Waspada dan menjauh jika: dijanjikan menerima lebih besar dari total setoran (“untung pasti”); pengelolanya tidak Anda kenal secara langsung; setoran diminta ke rekening pribadi pihak yang tak jelas; ada bonus untuk merekrut anggota baru — ini ciri khas Ponzi; dan Anda ditekan untuk “buruan gabung sebelum slot habis”.

OJK menganjurkan prinsip sederhana 2L — Legal dan Logis: pastikan lembaga penawar berizin (cek melalui Kontak OJK 157), dan uji tawaran dengan logika — keuntungan tinggi, pasti, dan cepat adalah kombinasi yang tidak pernah ada di dunia keuangan yang jujur. Temuan aktivitas keuangan ilegal dapat dilaporkan ke sipasti.ojk.go.id, dan korban penipuan transaksi dapat melapor ke iasc.ojk.go.id.

Penutup

Jadi, siapa yang paling untung dalam arisan? Dalam arisan yang jujur: penerima giliran awal untung sedikit secara nilai waktu, tetapi undian yang adil membagi peluang itu rata, dan seluruh peserta memetik keuntungan yang lebih langgeng — disiplin menabung, akses dana tanpa bunga, dan kepercayaan antartetangga.

Sedangkan dalam “arisan” yang menjanjikan untung pasti dan besar? Yang untung hanya satu: bandarnya. Dan matematika sudah memberi tahu akhirnya bahkan sebelum arisan itu dimulai.

Warisan leluhur kita ini terlalu berharga untuk dirusak penipu. Rawatlah arisan dengan dua hal yang sama: kepercayaan yang tulus — dan hitungan yang jernih.


Sumber data: sasaran inflasi Bank Indonesia (2,5%±1%); peringatan resmi OJK mengenai arisan online ilegal (2025); data OJK mengenai akumulasi kerugian investasi ilegal 2017–2023 sebesar Rp139,67 triliun; data laporan Indonesia Anti-Scam Centre/IASC (November 2024–Maret 2026); imbauan prinsip 2L dan kanal aduan resmi Satgas PASTI OJK. Seluruh informasi dapat diverifikasi melalui ojk.go.id, sipasti.ojk.go.id, dan bi.go.id.