Banyak orang merasa ada yang tidak beres saat membaca surat penawaran kredit. Di brosur tertulis bunga 8 persen per tahun, terdengar ringan. Namun saat tabel angsuran keluar, jumlah yang harus dibayar tiap bulan terasa lebih besar dari yang dibayangkan. Penyebabnya biasanya bukan salah hitung, melainkan perbedaan cara menghitung bunga. Ada dua metode yang lazim dipakai, yaitu bunga flat dan bunga efektif, dan keduanya menghasilkan angka yang tidak bisa langsung dibandingkan.
Dua cara menghitung bunga
Bunga flat dihitung dari pokok pinjaman awal, dan angkanya tetap sama sampai cicilan terakhir. Walaupun utang Anda sudah berkurang separuh, bunga yang dibebankan tetap dihitung dari jumlah yang dipinjam pertama kali.
Bunga efektif dihitung dari sisa utang yang belum dibayar. Karena sisa utang menyusut setiap bulan, porsi bunga dalam angsuran ikut mengecil, sementara porsi pokok membesar. Total angsurannya sendiri tetap sama tiap bulan.
Perbedaan dasar inilah yang membuat angka 8 persen flat dan 8 persen efektif bukan hal yang sama.
Rumus dasarnya
Angsuran pada skema flat dihitung seperti ini, dengan P sebagai pokok pinjaman, if bunga flat per tahun, t jangka waktu dalam tahun, dan n jumlah bulan angsuran:
\[ A_{\text{flat}} \;=\; \frac{P + \left(P \times i_f \times t\right)}{n} \]
Sedangkan angsuran pada skema efektif memakai rumus anuitas, dengan i sebagai bunga efektif per bulan:
\[ A_{\text{efektif}} \;=\; \frac{P \times i}{1 – \left(1 + i\right)^{-n}} \]
Contoh dengan angka nyata
Misalkan seseorang meminjam Rp60.000.000 selama 36 bulan dengan bunga flat 8 persen per tahun.
\[ \text{Bunga total} = 60.000.000 \times 8\% \times 3 = 14.400.000 \]
\[ A_{\text{flat}} = \frac{60.000.000 + 14.400.000}{36} \approx 2.066.667 \]
Jadi angsurannya sekitar Rp2.066.667 per bulan, dan total yang dikembalikan Rp74.400.000.
Di sinilah angsuran terasa lebih mahal
Saat mendengar angka 8 persen, kebanyakan orang membayangkan bunga yang dihitung dari sisa utang. Mari kita hitung berapa angsurannya seandainya 8 persen itu memang bunga efektif. Bunga per bulannya adalah:
\[ i = \frac{8\%}{12} \approx 0{,}67\% \text{ per bulan} \]
Lalu angsurannya:
\[ A_{\text{efektif}} = \frac{60.000.000 \times i}{1 – \left(1 + i\right)^{-36}} \approx 1.880.182 \]
Inilah sumber rasa terkejut itu. Angsuran yang dibayangkan Rp1.880.182, sedangkan yang tertulis di tabel Rp2.066.667. Selisihnya Rp186.485 setiap bulan, dan bila dijumlahkan selama 36 bulan menjadi Rp6.713.451. Angka bunga di brosur tidak berubah, tetapi beban bulanannya berbeda jauh.
Akar penyebabnya ada pada sisa utang
Pada bulan ke-19, pokok yang sudah terbayar kira-kira Rp30.000.000, sehingga utang tinggal separuh. Namun pada skema flat, bunga bulan itu tetap dihitung dari Rp60.000.000. Peminjam membayar bunga atas uang yang sebenarnya sudah dikembalikan.
Kalau dibalik pertanyaannya, kita bisa mencari berapa bunga efektif yang setara dengan penawaran flat tadi. Nilai i dicari dari persamaan berikut:
\[ 60.000.000 = 2.066.667 \times \frac{1 – \left(1 + i\right)^{-36}}{i} \]
Persamaan ini tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa, sehingga nilainya dicari lewat pendekatan berulang. Hasilnya sekitar i = 1,21 persen per bulan, atau kira-kira 14,5 persen per tahun. Sebagai gambaran kasar, untuk tenor satu sampai lima tahun, bunga flat biasanya setara dengan sekitar 1,8 kali lipat bila dinyatakan dalam bunga efektif.
Mana yang lebih murah, flat 8 persen atau efektif 14 persen?
Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang membandingkan dua penawaran. Untuk pinjaman dan tenor yang sama, bunga efektif 14 persen per tahun menghasilkan angsuran sekitar Rp2.050.658 per bulan, dengan total pembayaran sekitar Rp73.823.680. Bandingkan dengan skema flat 8 persen yang totalnya Rp74.400.000. Selisihnya sekitar Rp576.320.
Jadi penawaran yang angkanya terlihat jauh lebih besar justru sedikit lebih ringan. Inilah alasan mengapa dua angka bunga tidak boleh dibandingkan sebelum disamakan satuannya.
Biaya di muka ikut mengubah hitungan
Selain metode bunga, ada biaya provisi, administrasi, atau asuransi yang kadang dipotong langsung dari dana yang cair. Jika pinjaman Rp60.000.000 dipotong 3 persen di muka, uang yang benar-benar diterima tinggal Rp58.200.000, sementara angsurannya tetap dihitung dari Rp60.000.000. Bunga efektifnya naik dari sekitar 14,5 persen menjadi sekitar 16,7 persen per tahun, dan selisih ini jarang muncul di brosur.
Yang sebaiknya ditanyakan sebelum menandatangani
Beberapa hal berikut layak dipastikan lebih dulu kepada petugas pemberi pinjaman:
- Metode bunga yang dipakai, flat atau efektif, dan berapa nilainya bila dikonversi ke efektif per tahun.
- Jumlah dana yang benar-benar cair setelah semua potongan di muka.
- Total seluruh pembayaran sampai lunas, bukan hanya besaran angsuran per bulan.
- Aturan pelunasan dipercepat. Pada skema flat, melunasi lebih awal belum tentu memangkas bunga secara sebanding.
- Tabel angsuran resmi secara tertulis, sehingga bisa dicocokkan dengan perhitungan sendiri.
Sejak terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13 Tahun 2024 tentang Transparansi dan Publikasi Suku Bunga Dasar Kredit bagi Bank Umum Konvensional, yang mulai berlaku 12 Agustus 2024, bank umum konvensional diminta memperhatikan perlindungan konsumen melalui pemberitahuan perubahan suku bunga serta konversi flat ke efektif dalam surat penawaran. Aturan ini juga menempatkan Suku Bunga Dasar Kredit sebagai indikasi suku bunga efektif terendah. Dengan begitu, calon peminjam punya dasar untuk meminta penjelasan tertulis.
Penutup
Bunga flat bukan skema yang keliru, dan bukan pula tanda niat buruk pemberi pinjaman. Metode ini memang lebih sederhana dihitung dan mudah dijelaskan. Yang perlu dihindari adalah membandingkan dua penawaran dengan satuan berbeda seolah-olah setara. Selama Anda menyamakan dulu keduanya ke bunga efektif per tahun, lalu melihat angsuran dan total pembayaran sampai lunas, keputusan yang diambil akan jauh lebih jernih.
Catatan: Seluruh angka dalam tulisan ini adalah contoh perhitungan untuk keperluan edukasi, bukan penawaran produk, bukan rekomendasi memilih lembaga keuangan tertentu, dan tidak menggambarkan produk pihak mana pun. Bunga efektif per tahun di sini dihitung sebagai bunga bulanan dikali dua belas, sesuai kebiasaan yang berlaku umum. Hasil perhitungan nyata dapat berbeda karena pembulatan, jumlah hari bunga, biaya administrasi, asuransi, serta ketentuan masing-masing pemberi pinjaman. Sebelum mengambil keputusan, mintalah simulasi resmi secara tertulis dari lembaga keuangan yang bersangkutan.
Rujukan: Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13 Tahun 2024 tentang Transparansi dan Publikasi Suku Bunga Dasar Kredit bagi Bank Umum Konvensional, Otoritas Jasa Keuangan.