Enam puluh delapan tahun setelah Tambora, giliran sebuah pulau kecil di Selat Sunda yang menyita perhatian dunia. Letusan Gunung Krakatau pada Agustus 1883 tercatat sebagai salah satu bencana alam paling banyak didokumentasikan pada abad ke-19, karena kabarnya menyebar cepat lewat jaringan telegraf yang saat itu baru berkembang. Artikel ini merupakan bagian kedua dari seri sejarah letusan gunung api Indonesia, ditulis untuk keperluan edukasi dan tidak membahas kondisi kawasan tersebut pada masa sekarang.
Bukan Letusan Pertama di Selat Sunda
Krakatau terletak di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Kawasan ini sudah pernah mengalami keruntuhan kaldera besar pada masa lampau, sekitar abad keempat hingga keenam Masehi, yang menyisakan lingkaran pulau-pulau kecil seperti Sertung, Panjang, dan Rakata.
Di dalam lingkaran itu kemudian tumbuh kembali kerucut-kerucut baru: Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Ketiganya menyatu membentuk satu pulau yang dikenal sebagai Pulau Krakatau sebelum 1883. Jadi, gunung yang meletus pada 1883 sebenarnya adalah “generasi berikutnya” yang tumbuh di atas bekas letusan purba.
Kronologi Mei hingga Agustus 1883
Tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat pada Mei 1883 berupa letusan kecil, kolom asap, dan dentuman yang terdengar sampai daratan Jawa. Selama beberapa bulan berikutnya, aktivitas ini berlangsung naik turun. Kapal-kapal yang melintas bahkan sempat menjadikannya tontonan menarik, karena pada masa itu belum ada pemahaman memadai tentang apa yang sedang berlangsung di bawah permukaan.
Puncaknya terjadi pada 26 dan 27 Agustus 1883. Serangkaian ledakan besar meruntuhkan sebagian besar tubuh pulau ke dalam ruang magma yang mengosong. Kerucut Danan dan Perbuwatan lenyap, sedangkan Rakata hanya tersisa sebagian. Aliran material panas melintas di atas permukaan laut dan mencapai pesisir Sumatra pada jarak sekitar 40 kilometer dari sumber letusan.
Lokasi: Selat Sunda, antara Banten dan Lampung
Puncak letusan: 26–27 Agustus 1883
Skala: VEI 6
Korban jiwa: lebih dari 36.000, sebagian besar akibat tsunami
Jangkauan awan panas: sampai ±40 km melintasi selat
Perubahan bentang alam: dua kerucut hilang, terbentuk kaldera bawah laut
Mengapa Tsunami Menjadi Penyebab Utama Korban
Sebagian besar korban jiwa bukan disebabkan oleh lontaran batu atau abu, melainkan oleh gelombang tsunami yang menghantam pesisir Jawa dan Sumatra. Runtuhnya sebagian tubuh gunung dan masuknya massa air laut ke dalam rongga yang terbentuk memindahkan air dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat.
Kecepatan gelombang tsunami di laut dangkal dapat didekati dengan rumus yang sama seperti pada gelombang air dangkal di buku teks fisika:
dengan \(v\) kecepatan gelombang, \(g \approx 9{,}8\ \text{m/s}^2\) percepatan gravitasi, dan \(d\) kedalaman perairan. Untuk perairan sedalam 50 meter:
Nilai 22 m/s setara dengan sekitar 80 kilometer per jam. Di laut yang lebih dalam, kecepatannya jauh lebih besar lagi. Inilah sebabnya jeda waktu antara peristiwa di sumber dan datangnya gelombang di pantai bisa sangat singkat, sehingga pengetahuan tentang tanda alam dan jalur evakuasi menjadi sangat berharga.
Gema yang Terekam di Seluruh Dunia
Suara ledakan Krakatau dilaporkan terdengar sampai ribuan kilometer, termasuk di kawasan Samudra Hindia bagian barat. Selain suara, letusan ini juga menghasilkan gelombang tekanan udara yang terekam oleh alat pengukur tekanan (barometer) di banyak kota besar dunia. Gelombang itu bahkan tercatat berkeliling bumi beberapa kali.
Kita bisa memperkirakan lamanya satu putaran dengan pembagian sederhana. Keliling bumi kira-kira 40.000 km, sedangkan gelombang tekanan merambat pada kecepatan mendekati kecepatan suara di udara, sekitar 1.100 km/jam:
Perkiraan sekitar satu setengah hari untuk sekali putaran ini sejalan dengan catatan pengamatan barometer pada masa itu. Selain itu, partikel halus di atmosfer membuat langit senja di berbagai belahan dunia tampak berwarna merah menyala selama berbulan-bulan, fenomena yang banyak dicatat pengamat cuaca dan pelukis pada era tersebut.
Lahirnya Anak Krakatau
Setelah kaldera terbentuk, kawasan itu sempat tenang selama beberapa dekade. Pada akhir 1920-an, muncul kerucut baru dari dasar kaldera yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Pulau muda ini terus berubah bentuk dari waktu ke waktu, tumbuh oleh material erupsi dan sesekali berkurang oleh longsoran. Keberadaannya menjadi laboratorium alam yang berharga: para peneliti dapat mengamati langsung bagaimana sebuah gunung api dan ekosistemnya terbentuk dari nol.
Pelajaran yang Masih Relevan
| Pelajaran sejarah | Penerapan hari ini |
|---|---|
| Ancaman terbesar datang dari laut, bukan dari lereng gunung | Wilayah pesisir dekat gunung api laut perlu memahami risiko tsunami, termasuk yang tidak didahului gempa terasa |
| Waktu tempuh gelombang sangat singkat | Latihan evakuasi mandiri, penanda jalur, dan titik kumpul di tempat lebih tinggi sangat menentukan |
| Aktivitas berlangsung berbulan-bulan sebelum puncaknya | Pemantauan berkelanjutan dan komunikasi status resmi kepada warga pesisir |
| Informasi menyebar cepat namun mudah dilebih-lebihkan | Memverifikasi kabar ke kanal resmi sebelum meneruskannya di media sosial atau grup pesan |
Saat ini pemantauan gunung api di Indonesia dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di bawah Badan Geologi, sementara peringatan dini tsunami dikelola BMKG dan penanganan bencana dikoordinasikan BNPB bersama BPBD daerah. Informasi status gunung api dapat diakses publik melalui kanal resmi seperti MAGMA Indonesia.
Rujukan: Global Volcanism Program, Smithsonian Institution (profil dan laporan aktivitas Krakatau); National Centers for Environmental Information, NOAA (dokumentasi peristiwa 1883); laporan ilmiah klasik mengenai letusan Krakatau dan efek tsunaminya.
Seri Sejarah Letusan Gunung Api — Bagian 2 dari 3. Bagian berikutnya membahas letusan purba Gunung Toba dan terbentuknya Danau Toba.