Jakarta – Kita mungkin pernah mengalaminya. Sepanjang hari menerima apresiasi, dukungan, bahkan pujian. Namun menjelang malam, yang terus terngiang justru satu kalimat yang melukai. Mengapa satu kritik terasa lebih berat daripada puluhan kebaikan?

Fenomena ini bukan sekadar perasaan yang dilebih-lebihkan. Dalam psikologi, terdapat konsep yang dikenal sebagai negativity bias — kecenderungan manusia memberi bobot lebih besar pada pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif. Otak kita memang dirancang untuk lebih waspada terhadap ancaman daripada kenyamanan. Secara evolusioner, mengingat bahaya membantu manusia bertahan hidup. Luka lebih penting diingat agar tidak terulang.

Namun di dunia modern, mekanisme yang dahulu menyelamatkan justru sering memperpanjang beban batin. Satu komentar tajam dapat menghapus makna dari banyak apresiasi. Kita mengulangnya dalam pikiran, membesarkannya, bahkan menjadikannya ukuran nilai diri.

Ada alasan emosional di baliknya. Luka menyentuh identitas. Pujian sering kita anggap wajar atau pantas, sementara kritik terasa seperti ancaman terhadap harga diri. Ketika seseorang memuji, kita cenderung meragukan ketulusannya. Tetapi ketika seseorang mengkritik, kita langsung mempercayainya.

Di era media sosial, kecenderungan ini semakin kuat. Seratus komentar positif bisa tenggelam oleh satu komentar negatif. Kita terpaku pada yang menyakitkan, bukan yang menguatkan. Padahal secara rasional, proporsinya tidak seimbang.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa otak bekerja demikian — itu bagian dari mekanisme alami. Pertanyaannya adalah: apakah kita harus terus tunduk pada kecenderungan itu?

Kesadaran menjadi kunci. Menyadari bahwa luka memang lebih mudah melekat membantu kita memberi jarak pada emosi. Kita bisa belajar menimbang ulang: apakah satu kritik benar-benar mewakili keseluruhan diri kita? Apakah ia lebih kuat daripada seluruh kebaikan yang pernah kita terima?

Menghargai pujian bukan berarti menjadi tinggi hati. Itu berarti adil terhadap diri sendiri. Jika kita bisa mengingat kesalahan agar menjadi lebih baik, seharusnya kita juga mampu mengingat kebaikan agar tetap percaya diri.

Barangkali hidup bukan tentang menghapus luka, tetapi tentang menempatkannya pada proporsi yang tepat. Luka boleh diingat sebagai pelajaran. Namun pujian juga layak diingat sebagai penguat.

Karena pada akhirnya, nilai diri kita tidak ditentukan oleh satu luka — tetapi oleh keseluruhan perjalanan yang telah kita lalui.