Jakarta-Dalam banyak diskusi, manusia sering mengatakan bahwa ia berusaha melihat sesuatu secara objektif. Objektif berarti menilai sesuatu berdasarkan fakta, bukan berdasarkan perasaan, kepentingan pribadi, atau prasangka.
Namun dalam praktiknya, bersikap objektif tidak selalu mudah. Bahkan orang yang berniat jujur sekalipun sering tanpa sadar dipengaruhi oleh berbagai hal yang membuat penilaiannya tidak sepenuhnya netral.
Hal ini bukan semata-mata karena manusia tidak ingin objektif, tetapi karena cara kerja pikiran manusia memang tidak selalu netral sejak awal.
Setiap orang memiliki pengalaman dan sudut pandang sendiri
Setiap manusia memiliki latar belakang pengalaman yang berbeda. Pendidikan, lingkungan, nilai yang diajarkan sejak kecil, dan pengalaman hidup membentuk cara seseorang melihat dunia.
Ketika seseorang menilai suatu peristiwa, ia tidak melihatnya dari posisi kosong. Ia melihatnya melalui kacamata pengalaman dan keyakinan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Akibatnya, dua orang yang melihat peristiwa yang sama dapat menghasilkan penilaian yang berbeda, meskipun fakta yang mereka lihat sebenarnya sama.
Pikiran manusia cenderung mempertahankan keyakinannya
Salah satu kecenderungan alami pikiran manusia adalah mempertahankan keyakinan yang sudah dimiliki.
Ketika seseorang telah percaya pada suatu pandangan tertentu, ia sering lebih mudah menerima informasi yang mendukung pandangan tersebut dan lebih sulit menerima informasi yang bertentangan.
Kecenderungan ini membuat seseorang merasa bahwa penilaiannya sudah objektif, padahal sebenarnya ia hanya lebih memperhatikan fakta yang sesuai dengan keyakinannya.
Emosi memengaruhi cara manusia menilai
Objektivitas juga sering terganggu oleh emosi.
Ketika manusia merasa marah, kecewa, atau terlalu antusias, penilaian terhadap suatu keadaan sering berubah. Emosi dapat membuat seseorang menekankan bagian tertentu dari kenyataan dan mengabaikan bagian lainnya.
Dalam situasi seperti ini, penilaian sering lebih dipengaruhi oleh perasaan daripada oleh fakta yang sebenarnya ada.
Kepentingan pribadi dapat memengaruhi penilaian
Selain pengalaman dan emosi, kepentingan pribadi juga dapat memengaruhi cara seseorang melihat suatu masalah.
Ketika suatu keputusan menyangkut keuntungan atau kerugian bagi dirinya sendiri, manusia sering tanpa sadar cenderung memilih penjelasan yang lebih menguntungkan dirinya.
Hal ini bukan selalu dilakukan dengan sengaja. Sering kali seseorang benar-benar merasa bahwa penilaiannya sudah adil, meskipun sebenarnya kepentingan pribadi ikut memengaruhi cara berpikirnya.
Objektivitas memerlukan kesadaran dan usaha
Karena berbagai pengaruh tersebut, objektivitas bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis. Objektivitas biasanya membutuhkan kesadaran dan usaha.
Beberapa hal yang membantu seseorang mendekati sikap objektif antara lain:
- menyadari bahwa setiap orang memiliki bias
- bersedia mempertimbangkan sudut pandang lain
- memisahkan fakta dari pendapat
- memberi waktu untuk berpikir sebelum menarik kesimpulan
Dengan cara ini, seseorang dapat mengurangi pengaruh faktor-faktor yang membuat penilaiannya menjadi tidak seimbang.
Penutup
Kesulitan manusia dalam bersikap objektif bukan berarti manusia tidak mampu melakukannya. Hal itu lebih menunjukkan bahwa pikiran manusia dipengaruhi oleh pengalaman, emosi, dan kepentingan pribadi.
Objektivitas bukan keadaan yang selalu sempurna, melainkan usaha untuk mendekati penilaian yang lebih adil dan lebih jernih.
Dengan menyadari keterbatasan cara berpikirnya sendiri, manusia justru memiliki peluang yang lebih besar untuk melihat kenyataan dengan lebih jelas.