Jakarta – Di banyak ruang—media sosial, lingkungan kerja, bahkan dalam keluarga—kritik sering terdengar lebih cepat daripada pujian. Satu kesalahan bisa menjadi bahan pembicaraan panjang, sementara sepuluh hal baik sering berlalu tanpa perhatian. Mengapa demikian?
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan yang dikenal sebagai negativity bias. Otak kita secara alami lebih peka terhadap hal negatif karena sejak dahulu, kemampuan mengenali ancaman membantu manusia bertahan hidup. Kesalahan, kekurangan, atau potensi bahaya terasa lebih “mendesak” untuk diperhatikan dibandingkan kebaikan yang sudah berjalan normal. Akibatnya, kritik terasa lebih penting untuk diucapkan.
Namun, ada faktor lain yang lebih halus: kritik sering memberi rasa superioritas. Ketika seseorang mengoreksi, ia berada pada posisi menilai. Tanpa disadari, itu bisa memberi ilusi kontrol dan kecerdasan. Sebaliknya, mengapresiasi membutuhkan kerendahan hati—mengakui bahwa orang lain telah melakukan sesuatu dengan baik.
Di dunia profesional, kritik memang diperlukan untuk perbaikan. Evaluasi adalah bagian dari proses belajar. Tetapi kritik yang tidak diimbangi apresiasi dapat menciptakan lingkungan yang kering secara emosional. Orang bekerja keras, tetapi merasa tidak pernah cukup. Mereka memperbaiki kesalahan, tetapi jarang merasakan pengakuan.
Di media sosial, fenomena ini semakin terlihat. Konten yang mengkritik sering mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan yang memuji. Algoritma cenderung mengangkat konten yang memicu emosi kuat, dan emosi negatif—marah, kecewa, kesal—lebih cepat menyebar. Tanpa sadar, kita menjadi bagian dari budaya yang lebih mudah menunjukkan kekurangan daripada mengakui kebaikan.
Padahal, apresiasi memiliki dampak yang tidak kalah besar. Penelitian dalam psikologi positif menunjukkan bahwa pengakuan dan pujian yang tulus dapat meningkatkan motivasi, produktivitas, dan kesejahteraan emosional. Apresiasi bukan sekadar basa-basi; ia memperkuat hubungan sosial dan membangun rasa percaya diri.
Mengkritik memang penting. Tetapi apresiasi adalah fondasi yang sering dilupakan. Kritik tanpa apresiasi terasa seperti teguran tanpa empati. Sebaliknya, apresiasi tanpa kritik bisa membuat kita stagnan. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk diseimbangkan.
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan “mengapa orang lain lebih suka mengkritik,” tetapi “seberapa sering kita sendiri memberi apresiasi?” Karena budaya komunikasi dimulai dari kebiasaan kecil: mengucapkan terima kasih, mengakui usaha, dan menyadari bahwa tidak semua hal perlu dikoreksi.
Pada akhirnya, kritik membantu kita tumbuh. Tetapi apresiasi membuat kita bertahan.
Dan mungkin, dunia akan terasa sedikit lebih hangat jika kita belajar mengatakan, “itu sudah baik,” sebelum mencari apa yang kurang.