Jakarta – Pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan seperti teka-teki. Namun di baliknya tersembunyi salah satu cara paling elegan untuk membayangkan betapa luasnya alam semesta.
Kita bisa memegang pasir di tangan. Kita bisa melihat hamparan pantai atau gurun yang seakan tak berujung. Tetapi ketika berbicara tentang bintang, kita berbicara tentang cahaya yang berjarak jutaan hingga miliaran tahun cahaya dari Bumi. Lalu, manakah yang lebih banyak: butiran pasir di Bumi, atau bintang di alam semesta?
Menghitung yang Hampir Tak Terhitung
Ilmuwan tidak pernah menghitung satu per satu. Mereka menggunakan pendekatan estimasi berbasis model matematis dan pengamatan.
Jumlah Bintang
- Galaksi Bima Sakti diperkirakan memiliki sekitar 100 hingga 400 miliar bintang.
- Alam semesta teramati diperkirakan mengandung ratusan miliar hingga lebih dari satu triliun galaksi.
Dengan pendekatan konservatif, jumlah total bintang di alam semesta teramati diperkirakan berada pada kisaran:
sekitar 10²² hingga 10²⁴ bintang
(angka 1 dengan 22–24 nol di belakangnya)
Angka ini bukan kepastian mutlak, tetapi estimasi berdasarkan data teleskop modern dan model kosmologi yang digunakan komunitas ilmiah.
Jumlah Butiran Pasir
Untuk pasir, ilmuwan memperkirakan:
- Menghitung volume pasir di pantai dan gurun.
- Mengestimasi ukuran rata-rata butiran pasir.
- Menghitung berapa butir dalam satu meter kubik.
Hasilnya menghasilkan angka sekitar:
sekitar 10¹⁸ hingga 10²⁰ butir pasir
Sekali lagi, ini perkiraan kasar, karena ukuran pasir berbeda-beda dan tidak semua wilayah bisa dihitung secara presisi.
Kesimpulan Ilmiah
Dalam estimasi yang digunakan secara luas dalam sains:
Jumlah bintang di alam semesta teramati kemungkinan jauh lebih banyak daripada jumlah butiran pasir di seluruh Bumi.
Artinya, bahkan jika kita mengumpulkan semua pasir dari pantai dan gurun, jumlahnya masih kalah dibandingkan jumlah bintang yang tersebar di kosmos.
Refleksi: Angka yang Melampaui Imajinasi
Namun mungkin yang lebih penting bukanlah siapa yang “lebih banyak”. Yang lebih penting adalah apa arti angka-angka itu bagi manusia.
Ketika kita mendengar 10²² atau 10²⁴, angka itu melampaui intuisi. Ia terlalu besar untuk dibayangkan secara konkret. Dan di situlah letak kekaguman itu: manusia, makhluk kecil di satu planet kecil, mampu memperkirakan jumlah bintang di alam semesta.
Bukan dengan menghitungnya satu per satu, tetapi dengan akal, matematika, dan observasi.
Perbandingan antara bintang dan pasir bukan untuk membuat manusia merasa kecil. Justru sebaliknya — ia menunjukkan betapa besar rasa ingin tahu manusia. Kita mungkin tak pernah menyentuh bintang, tetapi kita mampu memahami keberadaannya.
Di antara butiran pasir yang bisa kita genggam dan triliunan bintang yang tak terjangkau, manusia berdiri di tengah: kecil dalam ukuran, tetapi besar dalam kemampuan berpikir.
Dan mungkin di situlah keajaiban sesungguhnya berada.