Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan potensi krisis inflasi seiring perang AS-Israel di Iran yang memperburuk prospek ekonomi global, terlepas dari apakah gencatan senjata yang rapuh akan bertahan atau tidak.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan bahwa IMF akan menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia pada pekan depan.

“Seandainya bukan karena guncangan ini, kami akan meningkatkan perkiraan pertumbuhan global,” ujar Georgieva dalam sambutannya menjelang Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia. “Namun sekarang, bahkan dalam skenario paling optimistis, tetap akan terjadi penurunan proyeksi pertumbuhan.”

Ekonomi dunia sebelumnya menunjukkan ketahanan terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan pajak impor besar-besaran tahun lalu. Pada Januari, IMF yang beranggotakan 191 negara bahkan telah meningkatkan proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,3 persen, dan berencana menaikkannya kembali dalam laporan terbaru.

Namun, perang yang dimulai pada 28 Februari telah mengubah situasi secara signifikan.

Konflik tersebut telah:

  • mendorong kenaikan harga minyak dan gas alam
  • merusak kilang minyak, terminal tanker, dan infrastruktur energi lainnya
  • mengganggu distribusi pupuk yang penting bagi sektor pertanian global
  • melemahkan kepercayaan pelaku usaha dan konsumen

Georgieva juga menambahkan bahwa negara-negara perlu memperkuat kondisi domestik mereka untuk meningkatkan ketahanan, terutama karena peningkatan belanja pertahanan memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian global.

Ia juga menyampaikan optimisme bahwa IMF akan memperoleh persetujuan dari Kongres Amerika Serikat tahun ini untuk meningkatkan sumber daya pinjaman melalui kenaikan kuota sebesar 50 persen. Hal ini akan memperluas akses terhadap kapasitas pinjaman IMF yang saat ini mencapai sekitar 1 triliun dolar AS. Amerika Serikat merupakan pemegang saham terbesar di IMF.

Menurutnya, IMF masih memiliki cadangan sumber daya yang besar, namun peningkatan kuota tetap diperlukan untuk memberikan jaminan keuangan di tengah ketidakpastian global.

Pernyataan Georgieva ini disampaikan sehari setelah IMF merilis laporan yang menguraikan dampak ekonomi perang terhadap perekonomian global.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa, rata-rata, produksi di negara-negara yang terlibat konflik menurun sekitar 3 persen pada tahap awal, dan terus menurun selama beberapa tahun berikutnya, dengan kerugian kumulatif mencapai sekitar 7 persen dalam lima tahun.

Namun, laporan itu juga menunjukkan bahwa ekonomi Amerika Serikat kemungkinan tidak akan mengalami dampak besar dari konflik ini, setidaknya dalam hal peningkatan belanja perang.

“Negara yang terlibat dalam konflik di luar wilayahnya mungkin dapat menghindari kerugian ekonomi yang signifikan, sebagian karena tidak mengalami kerusakan fisik di wilayahnya sendiri,” demikian isi laporan tersebut.

Kekhawatiran Bank Sentral

Georgieva juga menekankan bahwa bank sentral tidak dapat membiarkan inflasi meningkat tanpa kendali.

Pernyataan ini disampaikan menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat yang akan berlangsung selama dua hari untuk menentukan suku bunga, di tengah tekanan politik agar suku bunga diturunkan.

Di saat yang sama, kondisi pasar tenaga kerja menunjukkan stagnasi, dipengaruhi oleh perubahan kebijakan perdagangan dan imigrasi di Amerika Serikat.

Bank sentral lainnya, termasuk Bank Sentral Meksiko, juga menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah berisiko mendorong inflasi di negara tersebut, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di Amerika Latin.