Jakarta – Dalam kehidupan sehari-hari, kata takdir sering muncul ketika manusia berbicara tentang hasil dari suatu peristiwa. Ketika seseorang berhasil setelah berusaha, orang berkata, “Itu sudah takdirnya.” Ketika seseorang gagal meskipun telah berusaha keras, orang juga berkata, “Mungkin itu takdirnya.”
Namun muncul sebuah pertanyaan yang lebih tajam: jika seseorang tidak berusaha sama sekali, apakah keadaan itu juga bisa disebut takdir?
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh hubungan antara pilihan manusia, usaha, dan hasil kehidupan.
Usaha membuka kemungkinan
Jika seseorang menginginkan sesuatu lalu ia berusaha, secara logis hanya ada dua kemungkinan yang dapat terjadi: berhasil atau gagal.
Seseorang yang belajar bisa lulus atau tidak lulus.
Seseorang yang bekerja keras bisa berhasil atau tidak berhasil.
Hasil akhirnya memang tidak selalu dapat dipastikan. Banyak faktor yang berada di luar kendali manusia. Karena itu, setelah hasilnya terjadi, manusia sering menyebut hasil tersebut sebagai bagian dari takdir.
Dalam pengertian ini, takdir sering dipahami sebagai hasil akhir yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Tidak berusaha adalah sebuah pilihan
Namun keadaan menjadi berbeda ketika seseorang tidak berusaha sama sekali.
Jika seseorang tidak belajar, peluang untuk memahami pelajaran menjadi sangat kecil.
Jika seseorang tidak mencoba melakukan sesuatu, kemungkinan untuk berhasil hampir tidak ada.
Keadaan ini bukan semata-mata takdir. Sebelum hasil terjadi, sudah ada sebuah keputusan yang diambil, yaitu keputusan untuk tidak berusaha.
Dengan kata lain, tidak berusaha bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Ia adalah pilihan manusia.
Perbedaan antara hasil dan keputusan
Di sinilah letak perbedaan yang sering tidak disadari.
Takdir biasanya digunakan untuk menggambarkan hasil yang terjadi setelah berbagai faktor bekerja bersama, termasuk usaha manusia dan hal-hal yang berada di luar kendalinya.
Namun keputusan untuk berusaha atau tidak berusaha berada pada wilayah tindakan manusia sendiri.
Jika seseorang tidak berusaha, lalu hasil yang diinginkan tidak terjadi, keadaan tersebut bukan hanya soal takdir. Sebagian dari keadaan itu berasal dari pilihan yang dibuat sebelumnya.
Mengapa manusia sering menyebut semuanya takdir
Dalam praktik kehidupan, manusia sering menyederhanakan banyak hal dengan satu kata: takdir.
Kadang kata ini digunakan untuk menerima kenyataan yang sulit diubah. Namun kadang-kadang kata yang sama juga dipakai untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya berkaitan dengan keputusan manusia sendiri.
Akibatnya, batas antara pilihan dan takdir sering menjadi kabur.
Padahal keduanya tidak sepenuhnya sama.
Sebuah refleksi
Usaha tidak selalu menjamin keberhasilan. Dalam banyak hal, hasil akhir memang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia. Karena itulah manusia berbicara tentang takdir.
Namun sebelum sampai pada hasil tersebut, manusia tetap berada pada satu titik penting: memilih apakah akan berusaha atau tidak.
Usaha membuka kemungkinan.
Tidak berusaha menutup banyak kemungkinan.
Karena itu, ketika seseorang tidak berusaha, keadaan tersebut bukan sekadar soal takdir. Ia juga merupakan akibat dari pilihan manusia sendiri.
Di antara pilihan dan hasil itulah kehidupan manusia berjalan—dengan usaha, dengan harapan, dan dengan kesadaran bahwa tak semua hal dapat dikendalikan, tetapi banyak hal tetap bergantung pada keputusan yang kita ambil.