Jakarta – Sore itu percakapan berlangsung ringan. Saya dan seorang tetangga berbincang dalam bahasa Indonesia tentang hal-hal sederhana—harga kebutuhan pokok, rencana kerja, dan kabar lingkungan sekitar. Suasananya akrab, santai, tanpa jarak.
Beberapa menit kemudian, tetangga lain ikut bergabung. Topiknya masih sama. Namun perlahan, bahasa yang digunakan mulai berubah. Sebagian kalimat tetap dalam bahasa yang saya pahami, tetapi beberapa bagian beralih ke bahasa yang tidak sepenuhnya saya mengerti.
Saya masih berdiri di lingkaran yang sama, masih mendengar suara yang sama, tetapi tidak lagi memahami keseluruhan isi percakapan. Tidak ada nada mengecualikan. Tidak ada maksud yang tampak disengaja. Namun ada rasa yang sulit dijelaskan—seperti berada di dalam percakapan, tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian darinya.
Peristiwa kecil itu mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pesan. Bahasa adalah jembatan sosial. Ia dapat mendekatkan, tetapi juga tanpa sadar menciptakan sekat.
Perubahan bahasa dalam sebuah percakapan sering kali terjadi spontan—karena kebiasaan, karena kedekatan, atau karena rasa nyaman di antara sebagian orang. Tidak selalu ada niat untuk mengecualikan siapa pun. Namun dalam ruang bersama, kesadaran menjadi penting: ketika satu lingkaran percakapan melibatkan beberapa orang, bahasa yang dipahami oleh semua yang hadir adalah bentuk penghormatan yang sederhana namun bermakna.
Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti seluruh peserta percakapan bukan berarti mengurangi identitas atau budaya. Justru sebaliknya, itu menunjukkan kepekaan sosial. Dalam ruang publik atau semi-publik—seperti lingkungan tempat tinggal—pilihan bahasa mencerminkan apakah kita ingin membangun jembatan bersama atau hanya memperkuat kedekatan di antara sebagian orang saja.
Tidak ada yang salah dengan beragam bahasa. Setiap bahasa memiliki nilai dan sejarahnya sendiri. Namun dalam situasi di mana semua orang terlibat dalam satu topik pembicaraan, menjaga agar bahasa tetap inklusif menjadi bagian dari etika kebersamaan.
Pengalaman sore itu tidak menimbulkan konflik. Percakapan tetap berjalan, tawa tetap terdengar. Tetapi ia menyisakan satu refleksi: betapa tipisnya batas antara merasa dilibatkan dan merasa tersisih—dan betapa besar peran bahasa dalam menentukan perasaan itu.
Mungkin kita semua pernah berada di dua sisi: sebagai orang yang berbicara dengan bahasa yang paling nyaman bagi kita, dan sebagai orang yang hanya tersenyum tanpa sepenuhnya memahami. Di antara dua posisi itu, ada satu sikap sederhana yang bisa kita pilih—menggunakan bahasa yang dimengerti oleh semua yang ada dalam percakapan.
Karena pada akhirnya, kebersamaan bukan hanya tentang berdiri dalam lingkaran yang sama, tetapi juga tentang memastikan setiap orang di dalamnya dapat benar-benar ikut memahami dan terlibat.