Hampir semua orang pernah bertemu dengannya di bangku sekolah: angka 3,14 yang dipakai menghitung keliling dan luas lingkaran. Namun di balik tiga digit yang akrab itu, tersimpan salah satu misteri paling menawan dalam matematika. Pi (dilambangkan \( \pi \)) adalah angka yang desimalnya tidak pernah berakhir dan tidak pernah berulang — angka yang secara harfiah tak pernah selesai ditulis, berapa pun kertas yang kita sediakan.

Apa Sebenarnya Pi Itu?

Definisi pi sangat sederhana. Ambil lingkaran apa pun — roda sepeda, tutup panci, atau uang logam — lalu bandingkan kelilingnya dengan diameternya. Hasil perbandingannya selalu sama:

$$ \pi = \frac{\text{keliling lingkaran}}{\text{diameter lingkaran}} \approx 3{,}14159265358979\ldots $$

Dari sinilah lahir dua rumus yang kita hafal sejak sekolah dasar, yaitu keliling lingkaran \( K = \pi d \) dan luas lingkaran \( L = \pi r^2 \), dengan \( d \) diameter dan \( r \) jari-jari. Keajaibannya: rasio ini berlaku untuk semua lingkaran di alam semesta, dari cincin kunci sampai orbit planet.

Perburuan Ribuan Tahun

Manusia telah memburu nilai pi sejak zaman kuno. Bangsa Mesir dan Babilonia sekitar 4.000 tahun lalu sudah memakai taksiran kasar di kisaran 3,1. Lompatan besar datang dari Archimedes (sekitar 250 SM) yang menjepit lingkaran dengan segi banyak beraturan bersisi 96, lalu membuktikan bahwa nilai pi terletak di antara dua pecahan:

$$ \frac{223}{71} < \pi < \frac{22}{7} $$

Dari sinilah pecahan 22/7 yang kita kenal di sekolah berasal — perlu diingat, 22/7 hanyalah hampiran, bukan nilai pi yang sesungguhnya. Berabad-abad kemudian, matematikawan Tiongkok Zu Chongzhi (abad ke-5 M) menemukan hampiran 355/113 yang akurat hingga enam angka di belakang koma — rekor ketelitian yang bertahan ratusan tahun.

Mengapa Tak Pernah Selesai?

Pada tahun 1761, Johann Lambert membuktikan bahwa pi adalah bilangan irasional: pi tidak dapat ditulis sebagai pecahan dua bilangan bulat. Konsekuensinya, deretan desimalnya tidak pernah berhenti dan tidak pernah membentuk pola berulang. Lebih jauh lagi, pada 1882 Ferdinand von Lindemann membuktikan pi bersifat transenden — pi bukan akar dari persamaan aljabar berkoefisien bilangan bulat mana pun. Temuan ini sekaligus menutup teka-teki kuno “menguadratkan lingkaran”: mustahil membuat persegi yang luasnya persis sama dengan sebuah lingkaran hanya dengan jangka dan penggaris.

Menariknya, angka yang “liar” ini bisa dituliskan lewat pola yang sangat teratur. Salah satunya deret Leibniz yang terkenal:

$$ \frac{\pi}{4} = 1 – \frac{1}{3} + \frac{1}{5} – \frac{1}{7} + \frac{1}{9} – \cdots $$

Deret ini indah, tetapi sangat lambat: dibutuhkan ratusan ribu suku hanya untuk mendapatkan beberapa digit yang benar. Karena itu para ahli mengembangkan rumus-rumus yang jauh lebih cepat untuk komputer modern.

Rekor Ratusan Triliun Digit

Di era komputer, perburuan digit pi berubah menjadi ajang unjuk kekuatan mesin. Google Cloud mencapai 100 triliun digit pada 2022. Rekor itu dilewati pada Mei 2025 ketika kolaborasi KIOXIA dan Linus Media Group menghitung 300 triliun digit — dicatat resmi oleh Guinness World Records setelah komputasi nonstop sekitar tujuh setengah bulan. Belum genap setahun, akhir 2025 tim StorageReview mengumumkan capaian baru: 314 triliun digit, angka yang seolah memberi hormat pada 3,14 itu sendiri.

Untuk apa digit sebanyak itu? Bukan untuk keperluan praktis. Sebagai gambaran, NASA hanya memakai sekitar 15 digit pi untuk navigasi wahana antariksa antarplanet, dan sekitar 39 digit sudah cukup untuk hampir semua perhitungan ilmiah. Perburuan triliunan digit sesungguhnya adalah uji ketahanan: menguji batas algoritma, prosesor, dan media penyimpanan. Jika sebuah komputer sanggup menghitung pi ratusan triliun digit tanpa satu pun kesalahan, keandalannya teruji.

Pi di Sekitar Kita

Meski terkesan abstrak, pi bekerja diam-diam dalam kehidupan sehari-hari. Sistem GPS memerlukan pi untuk menghitung posisi di permukaan Bumi yang melengkung. Gelombang radio, sinyal ponsel, arus listrik bolak-balik, hingga desain roda dan mesin — semuanya melibatkan pi, karena setiap hal yang berputar atau bergelombang pada dasarnya berkerabat dengan lingkaran. Bahkan kurva lonceng dalam statistik, yang dipakai menganalisis data survei dan penelitian, memuat pi dalam rumusnya.

Pelajaran dari Angka yang Tak Selesai

Pi mengajarkan sesuatu yang melampaui matematika: ada hal-hal yang tidak akan pernah kita ketahui secara tuntas, namun justru di situlah letak daya tariknya. Ribuan tahun manusia mengejar angka ini — dari jangka Archimedes hingga superkomputer — dan pi tetap menyisakan digit yang belum tersentuh, tak terhingga banyaknya. Setiap 14 Maret (3/14), dunia merayakannya sebagai Hari Pi, pengingat bahwa rasa ingin tahu manusia, seperti desimal pi, tidak mengenal titik akhir.


Catatan: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dari berbagai sumber tepercaya, antara lain publikasi Guinness World Records, KIOXIA, Google Cloud, dan lembaga pendidikan matematika. Angka rekor perhitungan digit pi dapat berubah sewaktu-waktu seiring pencapaian komputasi terbaru. Nilai-nilai historis kuno merupakan taksiran para sejarawan matematika dan dapat berbeda antarreferensi.