Dalam kehidupan sosial, kita sering menjumpai dua tipe respons yang kontras. Ada orang yang begitu cepat menemukan kekurangan orang lain dan mencela, sementara yang lain justru mudah melihat sisi baik dari orang lain dan memberi apresiasi.
Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak:
mengapa perbedaan ini bisa terjadi?
Jawabannya tidak hanya terletak pada perilaku, tetapi pada cara kerja pikiran, pengalaman hidup, dan kondisi batin seseorang.
Otak Manusia Cenderung Lebih Peka terhadap Hal Negatif
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami yang disebut negativity bias, yaitu lebih mudah memperhatikan dan mengingat hal negatif dibandingkan hal positif.
Akibatnya:
- Kesalahan kecil lebih cepat terlihat
- Kekurangan orang lain lebih mudah diingat
- Hal baik dari orang lain sering dianggap “biasa saja”
Inilah alasan mengapa mencela sering terasa lebih spontan dibanding memberi apresiasi.
Bukan karena manusia selalu ingin berniat buruk, tetapi karena otaknya memang dirancang lebih sensitif terhadap potensi masalah.
Mencela Lebih Mudah, karena Melindungi Diri Sendiri
Dalam banyak situasi, mencela orang lain bukan sekadar respons, tetapi juga mekanisme pertahanan diri.
Ketika seseorang:
- Merasa tidak nyaman
- Mengalami tekanan
- Atau menghadapi kegagalan
Maka mencela bisa menjadi cara untuk:
- Mengalihkan perhatian dari diri sendiri
- Mengurangi rasa bersalah
- Melindungi ego
Penelitian menunjukkan bahwa menyalahkan orang lain sering kali digunakan untuk menghindari tanggung jawab atau menjaga citra diri.
Dengan kata lain, celaan tidak selalu tentang orang lain—sering kali justru tentang diri yang ingin merasa aman.
Apresiasi Membutuhkan Kesadaran dan Kerendahan Hati
Berbeda dengan celaan, memberi apresiasi kepada orang lain bukan respons yang otomatis. Ia membutuhkan proses yang lebih sadar.
Seseorang perlu:
- Melihat nilai dalam diri orang lain
- Mengakui kelebihan orang lain
- Tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain
Tidak semua orang siap melakukan ini.
Karena itu, apresiasi sering kali:
- Lebih jarang diucapkan
- Terasa “canggung” bagi sebagian orang
- Membutuhkan kedewasaan emosional
Memberi apresiasi berarti mengakui bahwa orang lain memiliki nilai—dan itu membutuhkan kerendahan hati.
Lingkungan Membentuk Kebiasaan Menilai
Cara seseorang mencela atau mengapresiasi juga tidak lepas dari lingkungan tempat ia tumbuh.
Jika seseorang terbiasa:
- Dibesarkan dengan kritik → cenderung mudah mencela
- Dibesarkan dengan penghargaan → cenderung mudah mengapresiasi
Lingkungan membentuk pola berpikir:
- Apa yang dianggap penting
- Apa yang dianggap wajar
- Bagaimana menilai orang lain
Akibatnya, kebiasaan menilai orang lain sering kali bukan pilihan yang sadar, tetapi hasil dari pola yang terbentuk sejak lama.
Celaan Memberi Rasa “Lebih Tinggi”
Ada satu hal yang jarang disadari: mencela bisa memberi sensasi psikologis tertentu.
Ketika seseorang mencela:
- Ia menempatkan diri di posisi yang “lebih benar”
- Ia merasa memiliki standar
- Ia merasa lebih tahu
Hal ini bisa menciptakan rasa superior, meskipun hanya sementara.
Sebaliknya, apresiasi tidak memberikan efek itu.
Justru sebaliknya, apresiasi menuntut seseorang untuk menurunkan ego.
Di sinilah letak perbedaannya:
- Celaan bisa terasa “memuaskan”
- Apresiasi membutuhkan kedewasaan
Tidak Ada yang Sepenuhnya Salah atau Benar
Penting untuk dipahami, baik mencela maupun mengapresiasi memiliki tempatnya masing-masing.
Celaan (dalam bentuk yang tepat) bisa:
- Menunjukkan kekurangan orang lain
- Mendorong perbaikan diri orang lain
Apresiasi bisa:
- Menguatkan orang lain
- Membangun kepercayaan diri orang lain
- Menjaga hubungan dengan orang lain
Masalah muncul ketika:
- Celaan menjadi kebiasaan tanpa kendali
- Apresiasi menjadi formalitas tanpa makna
Kunci Utama: Kesadaran dalam Menilai
Pada akhirnya, yang membedakan bukan apakah seseorang mencela atau mengapresiasi, tetapi bagaimana dan dalam konteks apa hal itu dilakukan.
Kesadaran menjadi kunci:
- Apakah penilaian ini adil?
- Apakah ini membantu atau justru merusak?
- Apakah ini refleksi objektif atau reaksi emosional?
Dengan kesadaran ini, seseorang tidak lagi sekadar bereaksi, tetapi mulai memilih cara merespons.
Penutup
Perbedaan antara orang yang mudah mencela dan yang mudah memberi apresiasi bukan sekadar perbedaan sikap, tetapi perbedaan cara berpikir dan cara memaknai dunia.
Sebagian orang melihat kekurangan orang lain lebih dulu.
Sebagian lain melihat nilai orang lain lebih dulu.
Dan dalam setiap interaksi, yang sebenarnya terlihat bukan hanya apa yang dinilai, tetapi cara seseorang memahami realitas dan dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, cara kita menilai orang lain adalah cerminan dari cara kita melihat dunia—dan juga cara kita melihat diri kita sendiri.