Bogor- Dalam hidup, ada dua sikap yang sering dianggap bertentangan: berusaha dan menerima. Di satu sisi, kita diajarkan untuk tidak menyerah, untuk terus mencoba, dan untuk mencari jalan keluar. Di sisi lain, ada nasihat untuk menerima keadaan, tidak memaksakan, dan memahami batas.

Masalahnya bukan pada dua hal itu, tetapi pada batas di antara keduanya.

Jika hanya berusaha tanpa memahami batas, seseorang bisa terjebak dalam pemaksaan. Semua ingin diubah, semua ingin dikendalikan, tanpa melihat apakah kondisi memang memungkinkan. Akibatnya bukan hanya kelelahan, tetapi juga kekecewaan yang berulang.

Sebaliknya, jika terlalu cepat menerima, usaha bisa berhenti sebelum benar-benar dilakukan. Apa yang sebenarnya masih bisa diupayakan justru ditinggalkan. Ini bukan penerimaan, tetapi penghindaran.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan memilih salah satu, tetapi memahami kapan harus berusaha dan kapan harus menerima.

Secara logika, usaha dilakukan pada hal-hal yang masih berada dalam kendali. Jika ada tindakan yang bisa diambil, jika ada kemungkinan untuk memperbaiki, maka usaha masih relevan. Usaha bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang menjalankan bagian yang memang bisa dilakukan.

Namun tidak semua hal berada dalam kendali.

Ada kondisi yang tidak bisa diubah, meskipun sudah diupayakan. Ada batas fisik, ada situasi yang tidak bisa dipaksakan, dan ada hal yang tetap terjadi meskipun tidak diinginkan. Dalam kondisi seperti ini, terus memaksakan usaha tidak selalu memberi hasil yang berbeda.

Di sinilah penerimaan menjadi penting.

Penerimaan bukan berarti berhenti berusaha, tetapi berhenti memaksakan pada hal yang memang tidak bisa diubah. Ini adalah bentuk pemahaman, bukan kelemahan.

Masalahnya, batas antara usaha dan penerimaan tidak selalu jelas.

Sering kali seseorang berada di tengah, tidak tahu apakah harus terus mencoba atau mulai menerima. Jika berhenti terlalu cepat, ada rasa ragu apakah sebenarnya masih ada peluang. Jika terus mencoba, ada risiko menghabiskan tenaga tanpa hasil.

Untuk memahami batas ini, diperlukan cara melihat yang lebih objektif.

Pertama, melihat apakah usaha yang dilakukan masih memberi kemungkinan hasil yang realistis. Jika tidak ada perubahan meskipun berbagai cara sudah dicoba, mungkin yang perlu diubah bukan intensitas usaha, tetapi pendekatannya, atau bahkan penerimaannya.

Kedua, membedakan antara harapan dan kenyataan. Harapan bisa mendorong usaha, tetapi kenyataan menentukan batas. Ketika kenyataan menunjukkan bahwa sesuatu tidak bisa diubah, memaksakan harapan tidak akan mengubah hasil.

Ketiga, memperhatikan dampak dari usaha itu sendiri. Jika usaha mulai merusak kondisi, baik secara fisik maupun mental, maka perlu dipertanyakan apakah usaha tersebut masih tepat.

Di sisi lain, penerimaan juga perlu dipahami dengan benar.

Menerima bukan berarti pasrah tanpa arah. Menerima berarti mengakui kondisi yang ada, lalu tetap menjalani hidup dengan cara yang sesuai. Masih ada hal-hal lain yang bisa dilakukan, meskipun tidak semua sesuai keinginan.

Dengan cara ini, usaha dan penerimaan tidak saling bertentangan, tetapi saling melengkapi.

Usaha dilakukan pada hal yang bisa diubah. Penerimaan diterapkan pada hal yang tidak bisa diubah. Keduanya berjalan bersama, bukan saling menggantikan.

Pada akhirnya, hidup tidak selalu memberi pilihan yang jelas antara berusaha atau menerima. Yang ada adalah proses memahami batas di antara keduanya.

Dan di situlah letak kedewasaan dalam menjalani hidup: bukan pada seberapa keras kita berusaha, atau seberapa cepat kita menerima, tetapi pada kemampuan membedakan kapan harus melakukan keduanya.